Artikel Bermanfaat

Recent Post

Rabu, 23 Oktober 2013
Bolehkah Anak Memanfaatkan Harta Orang Tua dari Pekerjaan Haram?  Dari artikel 'Bolehkah Anak Memanfaatkan Harta Orang Tua dari Pekerjaan Haram?

Bolehkah Anak Memanfaatkan Harta Orang Tua dari Pekerjaan Haram? Dari artikel 'Bolehkah Anak Memanfaatkan Harta Orang Tua dari Pekerjaan Haram?


Bagaimana jika orang tua berpenghasilan haram, apakah boleh anak memanfaatkan harta orang tuanya tersebut? Semisal saja orang tua yang bekerja di bank.
Para ulama menjelaskan bahwa memakan harta orang tua yang berpenghasilan yang haram, maka perlu dirinci sebagai berikut:
  1. Jika seluruh sumber pendapatan berasal dari penghasilan yang haram, maka tidak boleh anak menikmati penghasilan tersebut jika ia mampu untuk bekerja baik penghasilannya berasal dari harta haram seluruhnya atau mayoritasnya.
  2. Jika si anak dalam keadaan terpaksa memanfaatkan penghasilan orang tua dan tidak ada cara lain untuk mencukupi kebutuhan anak, maka tidaklah mengapa memakan harta seperti itu dan dosa ketika itu untuk orang tuanya saja. Allah Ta’ala berfirman,
    إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
    Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 173).
Yang dimaksud keadaan darurat di sini adalah menurut sangkaan seseorang bisa binasa atau tidak bisa memikul kesulitan. Keadaan darurat boleh membolehkan sesuatu yang diharamkan, namun sesuai kadarnya. Dalam ilmu kaedah fikih disebutkan,
وَ كُلُّ مَحْظُوْرٍ مَعَ الضَّرُوْرَةِ
بِقَدْرِ مَا تَحْتَاجُهُ الضَّرُوْرَة
Setiap larangan boleh diterjang saat darurat,
Namun sekadar yang dibutuhkan untuk menghilangkan darurat.
Artinya jika mengkonsumsi harta dari penghasilan haram tadi sudah menghilangkan bahaya atau mendapati penggantinya, maka memakan yang haram tadi dijauhi.
Demikian penjelasan ringkas mengenai masalah ini, moga bermanfaat.
Artikel Muslim.Or.Id
Kamis, 10 Oktober 2013
Jatah Khusus Panitia Kurban

Jatah Khusus Panitia Kurban

Dari tradisi yang selama ini berjalan, panitia kurban yang statusnya dianggap sebagai wakil shohibul kurban biasa mendapatkan jatah khusus dari hasil kurban (kurban). Entah bentuknya adalah dengan dilebihkan jatah dagingnya. Misal, warga lain mendapatkan 1 kg, maka panitia sengaja diberikan 2 kg. Ada juga yang bentuknya, panitia secara khusus dibuatkan makan siang, tidak bersama warga lain. Hal ini pun telah dibahas oleh Rumaysho.Com sebelumnya. Dan kali ini ada ralat yang perlu disampaikan kepada pembaca sekalian.

Dibolehkan Mewakilkan Kurban pada Suatu Kepanitian

وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ - رضي الله عنه - قَالَ: -  أَمَرَنِي اَلنَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - أَنَّ أَقْوَمَ عَلَى بُدْنِهِ, وَأَنْ أُقَسِّمَ لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلَالَهَا عَلَى اَلْمَسَاكِينِ, وَلَا أُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا مِنْهَا شَيْئاً - مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari 'Ali bin Abi Tholib radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk mengurus unta (unta hadyu yang berjumlah 100 ekor, -pen) milik beliau, lalu beliau memerintahkan untuk membagi semua daging kurban, kulit dan jilalnya (kulit yang ditaruh di punggung unta untuk melindungi diri dari dingin) untuk orang-orang miskin. Dan aku tidak boleh memberikan bagian apa pun dari hasil kurban kepada tukang jagal (sebagai upah)." Muttafaqun 'alaih. (HR. Bukhari no. 1707 dan Muslim no. 1317).

Hal penting yang bisa disimpulkan dari hadits di atas, "Boleh mewakilkan dalam pengurusan kurban, pembagian daging kurban, juga dalam menyedekahkan." (Minhatul 'Allam fii Syarhi Bulughil Marom, 9: 299). Cara mewakilkan misalnya diserahkan pengurusan kurban tersebut kepada suatu kepanitiaan di masjid terdekat, bahkan tidak ada masalah jika mewakilkan ke daerah yang membutuhkan yang berbeda kota dengan cukup mentransfer uang.

Upah untuk Jagal dari Hasil Kurban

Hadits 'Ali di atas juga menunjukkan, "Bolehnya mengupah orang lain untuk menyembelih kurban asalkan upahnya tidak diambil dari hasil sembelihan kurban. Tidak boleh memberi tukang jagal sedikit pun dari daging kurban. Karena kalau memberi dari hasil kurban pada tukang jagal, itu sama saja menjual bagian kurban." (Minhatul 'Allam, 9: 299).

Dari hadits tersebut, Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Tidak boleh memberi tukang jagal sebagian hasil sembelihan kurban sebagai upah baginya. Inilah pendapat ulama-ulama Syafi’iyah, juga menjadi pendapat Atho’, An Nakho’i, Imam Malik, Imam Ahmad dan Ishaq.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 453)

Dalam Kifayatul Akhyar (hal. 489) karya Abu Bakr bin Muhammad Al Husayinniy Al Hushniy Asy Syafi’i disebutkan, “Yang namanya hasil kurban adalah dimanfaatkan secara cuma-cuma, tidak boleh diperjualbelikan. Termasuk pula tidak boleh menjual kulit hasil kurban. Begitu pula tidak boleh menjadikan kulit kurban tersebut sebagai upah untuk jagal, walau kurbannya adalah kurban yang hukumnya sunnah.” Hal yang serupa disebutkan pula dalam Al Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’ karya Muhammad bin Muhammad Al Khotib (2: 452).

Baca tulisan: Upah Jagal dari Hasil Kurban.

Kalau hasil kurban diserahkan kepada jagal karena alasan status sosialnya yaitu dia miskin atau sebagai hadiah, maka tidaklah mengapa.

Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah (5: 105) disebutkan, “Ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat: Haram memberikan tukang jagal upah dari hasil kurban dengan alasan hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan. Namun kalau diserahkan kepada tukang jagal tersebut karena statusnya miskin atau dalam rangka memberi hadiah, maka tidaklah mengapa. Tukang jagal tersebut boleh saja memanfaatkan kulitnya. Namun tidak boleh kulit dan bagian hasil kurban lainnya dijual.”

Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan mengatakan, “Namun jika hasil kurban diberikan kepada tukang jagal karena statusnya yang miskin, atau sebagai status hadiah (jika dia orang kaya, pent), maka tidaklah mengapa. Ia berhak untuk mengambil jatah tersebut karena posisinya sama dengan yang lain, bahkan ia lebih pantas karena dia yang mengurus langsung proses penyembelihan dst sehingga hatinya ingin ikut mendapatkannya. Akan tetapi lebih tepat, jika upah kerjanya sebagai jagal dibayarkan utuh terlebih dahulu, baru diberi hasil kurban (dengan status sedekah jika dia miskin atau hadiah jika dia kaya, pent). Upah jagal itu lebih baik diberikan utuh terlebih sebelum diberi bagian dari hasil hewan kurban dengan pertimbangan supaya upah sebagai jagal tidak dikurangi dengan alasan sudah diberi jatah dari hewan kurban. Pertimbangan dan alasan semacam ini menyebabkan status bagian dari hewan kurban yang diberikan kepada jagal tersebut adalah upah kerjanya sebagai jagal (padahal menjadikan daging hewan kurban untuk upah jagal adalah tindakan terlarang, pent)”  (Minhatul ‘Allam, 9: 299)

Tidak Tepat Menyamakan Panitia dengan Jagal
Sebagaimana kata Ibnu Mulaqqin Asy Syafi'i dalam Al I'lam bi Fawaid Umdah Al Ahkam (6: 286), "Yang dimaksud jagal itu sudah diketahui bersama yaitu orang yang menangani pengulitan dan memotong daging hewan yang disembelih."

Adapun menyamakan antara panitia kurban dengan jagal tidaklah tepat. Alasannya:

1- Panitia lebih tepat dianggap sebagai wakil dari shohibul kurban. Kalau panitia kurban itu sebagai wakil, maka sah-sah saja jika wakil memakan dari hasil kurban sebagaimana shohibul kurban boleh demikian.

2- Jagal sebagaimana dijelaskan di atas bertugas untuk memotong dan menguliti hewan kurban. Sedangkan panitia kurban saat ini bukan terbatas pada itu saja. Panitia kurban bertugas lebih kompleks, mereka mencari siapa  yang akan berkurban, mengurus penyembelihan bahkan sampai pada pendistribusian daging kurban kepada yang berhak atau sebagai hadiah.

Pendapat yang tepat -sekaligus ralat dari pendapat kami sebelumnya-, sah-sah saja atau boleh panitia kurban mendapatkan jatah khusus dari hasil kurban, itu tidaklah masalah. Alasannya, karena hasil kurban boleh pula dinikmati oleh shohibul kurban dan sisanya ia bagikan untuk fakir miskin atau sebagai hadiah bagi yang mampu. Jika boleh demikian, maka demikian pula berlaku pada wakil shohibul kurban. Begitu juga tidak mengapa panitia mendapat jatah khusus berupa makan-makan bersama dengan alasan akadnya adalah kerja sosial. Wallahu a'lam.

Hanya Allah yang memberi taufik.

---

Diselesaikan di Cilegon, Banten, 29 Dzulqo'dah 1434 H

Artikel www.rumaysho.com
Mendapati Haid Ketika Thawaf Ifadhah

Mendapati Haid Ketika Thawaf Ifadhah

Apa yang mesti dilakukan oleh jama'ah haji wanita ketika ia mendapati haid saat ingin melakukan thawaf ifadhah? Seandainya ingin menunggu sampai suci, maka ia sudah harus bergegas pulang ke tanah air dan sulit kembali untuk menunaikan thawaf tersebut. Padahal thawaf itu diharuskan suci menurut jumhur ulama. Dan tidak mungkin jama'ah haji wanita ini ditinggalkan di kota Mekkah supaya ia menunaikan thawaf yang merupakan rukun haji tersebut sehingga tertinggal dari jama'ah lainnya.

Wanita Haid Saat Haji

Jika wanita telah berihram untuk haji lalu ia mendapati haid, maka ia tetap berihram sebagaimana yang lainnya. Ia melakukan semua amalan haji, mulai dari tanggal 8 Dzulhijjah dengan melaksanakan sunnah mabit di Mina, tanggal 9 wukuf di Arafah, lalu dilanjutkan dengan mabit di Muzdalifah, dan melempar jumrah pada hari ke-10, 11, 12, atau 13 Dzulhijjah. Yang tidak boleh dilakukan oleh wanita haid hanyalah thawaf keliling Ka'bah, di samping itu wanita haid tidak melakukan ibadah yang umum seperti shalat, puasa, dan menyentuh mushaf.

Ketika ‘Aisyah haid saat haji, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,

فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

 “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.”  (HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211)

Sedangkan untuk thawaf wada', wanita haid mendapatkan keringanan untuk meninggalkannya. Dari  Ibnu ‘Abbas, ia berkata,

أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ ، إِلاَّ أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْحَائِضِ

"Manusia diperintahkan menjadikan akhir amalan hajinya adalah di Baitullah (dengan thawaf wada’) kecuali hal ini diberi keringanan bagi wanita haidh.” (HR. Bukhari no. 1755 dan Muslim no. 1328).

Mendapati Haid Saat Melakukan Thawaf Ifadhah

Kita sudah mengetahui bahwa thawaf ifadhah termasuk rukun haji. Perintah melakukan thawaf ifadhah disebutkan dalam ayat,

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

"Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al Hajj: 29). Yang dimaksud ayat ini adalah thawaf yang wajib yaitu thawaf ifadhah. Karena perintah dalam ayat ini disebutkan setelah perintah menyembelih. Dan penyembelih baru dilaksanakan pada hari Idul Adha.

Jika termasuk rukun haji, maka bila thawaf yang satu ini tidak dilakukan, maka hajinya tidaklah sah. Nah, masalahnya jika saat melakukan thawaf ifadhah ini datanglah haid atau menstruasi. Apa yang mesti dilakukan? Kalau mesti menunda sampai suci, maka bisa jadi ia terlambat pulang ke tanah air dan tidak mungkin menyuruh ia menunggu di Mekkah sementara rombongannya telah pulang ke tanah air. Dan tidak mungkin lagi kembali untuk menunaikan thawaf tersebut. Beda halnya jika seorang wanita bermukim di jazirah Arab, ia bisa dengan mudah kembali ke tanah suci untuk menyempurnakan thawaf ifadhah.

Perlu dipahami terlebih dahulu:

1- Para ulama sepakat bahwa thawaf asalnya adalah dengan berthoharoh (bersuci). Tidak boleh wanita haidh berthawaf padahal ia mampu nantinya berthawaf setelah ia suci.

2- Para ulama sepakat bahwa thawaf qudum (thawaf yang disyari’atkan bagi orang yang datang dari luar Makkah sebagai penghormatan kepada Baitullah Ka’bah) dan thawaf wada’ (thawaf ketika meninggalkan Makkah) tidak wajib bagi wanita haidh.

3- Para ulama sepakat bahwa wanita haidh dianjurkan untuk menunggu hingga suci ketika ia mendapati haidh sebelum melakukan thawaf ifadhah. Ketika ia suci barulah ia melakukan thawaf dan boleh meninggalkan Makkah (Lihat An Nawazil fil Hajj, 310-311).

Para ulama berselisih pendapat dalam hal jika wanita haidh harus meninggalkan Makkah dan belum melaksanakan thawaf ifadhah (yang merupakan rukun haji) dan tidak bisa lagi kembali ke Makkah, apakah ia boleh thawaf dalam keadaan haidh? Apakah sah?

Yang tepat dalam kondisi wanita haidh seperti ini, bolehnya thawaf dalam keadaan haidh meskipun kita mensyaratkan mesti harus berthoharoh ketika thawaf. Di antara alasannya, jika thoharoh adalah syarat thawaf, maka kita analogikan (qiyaskan) seperti keadaan shalat. Syarat shalat jadi gugur jika dalam keadaan tidak mampu (‘ajez). Seperti kita dalam keadaan sakit dan tidak mampu berwudhu dan tayamum, maka tetap harus shalat meskipun dalam keadaan hadats. Hal ini sama pula dengan thawaf. Lihat An Nawazil fil Hajj, hal. 311-321. Mengenai syarat bersuci ketika thawaf telah dibahas di Rumaysho.Com: Wudhu Batal di Pertengahan Thawaf.

Ibnul Qayyim mengatakan dalam I'lamul Muwaqi'in, "Sesungguhnya perkataan dan fatwa para ulama yang menyaratkan dan membuat ketetapan wajib itu diterapkan jika keadaan mampu dan punya kelapangan, bukan ketika keadaan darurat dan tidak mampu. Fatwa dan perkataan para ulama tidaklah bertentangan dengan dalil syar'i. Seorang mufti biasa mengaitkan antara syari'at dengan kaedah dan ushul syari'at, begitu pula kalam ulama dikaitkan dengan kaedah dan ushul mereka. Jadi mufti ketika mengeluarkan fatwa sesuai dengan pokok dan kaedah syari'at, juga kaedah para ulama. Wa billahit taufiq."

Demikian bahasan singkat di malam ini, moga bermanfaat.

Hanya Allah yang memberi taufik.



Referensi:

An Nawazil fil Hajj, 'Ali bin Nashir Asy Syal'an, terbitan Darut Tauhid, cetakan pertama, tahun 1431 H.

Masail Mu'ashiroh Mimma Ta'ummu bihil Balwa fii Fiqhil 'Ibadat, Naif bin Jam'an Jridan, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1430 H.
no image

Bolehnya Transfer Uang untuk Kurban di Daerah Lain

Bolehkah transfer uang untuk kurban di daerah lain apalagi disalurkan ke daerah yang butuh daging atau untuk menyokong dakwah Islam misal demi mencegah kristenisasi?

Ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya, "Seorang muslim yang bermukim di negeri non muslim, jika ia menyembelih udhiyah (kurban) di sana, maka ia tidak mendapati orang yang butuh yang akan diberi makan dari hasil kurban. Karena alasan ini, ia mentransfer sejumlah uang kepada fakir miskin di daerah lain untuk berkurban di negeri mereka. Apa hukum hal ini?"

Jawaban Syaikh, "Tidak mengapa seperti itu. Jika ia mengirim uang lantas berkurban di sana. Itu baik asalkan lewat perantaraan orang yang terpercaya. Jika ia hanya mengirimkan sejumlah uang, itu tidaklah masalah. Namun jika  melaksanakan kurban di tempat shohibul kurban lalu nanti memudahkan rekan dan teman-temannya untuk menyantapnya, itu lebih afdhol. Semisal ia melaksanakannya di lembaga Islami di negerinya lalu ia menghadiahkan pada rekan dan kaum muslimin, juga termasuk orang kafir -selain kafir harbi- karena itu adalah sedekah sunnah, itu lebih baik. Namun jika ia mengirim kurban ke Afrika -misalnya- untuk para mujahidin -jika ada- atau ia hanya mengirim sejumlah uang, maka tidaklah mengapa." (Fatawa Nur 'alad Darb, 18: 206)

Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz juga ditanya, "Sahkah dengan hanya mentransfer sejumlah uang untuk membeli hewan kurban lalu hewan tersebut disembelih untuk fakir miskin di luar daerah?"

Beliau menjawab, "Tidak mengapa jika seseorang menyembelih untuk keluarganya atau berkurban di luar daerah. Akan tetapi berkurban di tengah-tengah keluarganya itu yang lebih afdhol. Jika seseorang berkurban di rumahnya, lalu ia makan sebagian dan menyalurkannya pada orang di sekitarnya, maka itu lebih baik karena mencontoh praktek Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena beliau ketika berkurban dilakukan di tengah-tengah keluarganya lalu dimakan dan diberikan pada yang lain. Dan jika ia ingin berkurban yang lain selain di lingkungannya untuk disalurkan pada orang miskin di daerah lain, tetap hal itu mendapat ganjaran. Yang disalurkan tersebut terhitung sedekah." (Fatawa Nur 'alad Darb, 18: 207)

Syaikh 'Abdullah bin 'Abdirrahman Al Jibrin rahimahullah ditanya, "Apa hukum berkurban di luar Kerajaan Saudi Arabia, padahal shohibul kurban termasuk yang bermukim dan menetap di sana, apakah berkurban di luar itu sah?"

Jawaban dari beliau, "Tidak mengapa engkau mentransfer sejumlah uang ke negeri Islam di mana penduduknya sangat butuh akan makan, lalu penyembelihan tersebut diserahkan pada muslim yang benar-benar amanah dan berilmu tentang hukum Islam. Banyak di antara keluarga yang berkurban dengan sejumlah hewan kurban bisa mencapai sepuluh atau dua puluh, di mana umumnya adalah wasiat, lantas setelah disembelih tidak ada yang memakannya pada hari 'ied. Daging sembelihan tersebut hanya ditimbun atau diberikan pada yang sebenarnya tidak butuh. Jadi, mentransfer ke lain daerah lebih baik daripada menyerahkannya pada yang tidak berhak menerima. Wallahu a'lam." (Sumber: http://ibn-jebreen.com/fatwa/vmasal-1918-.html)

Syaikh Kholid Mushlih -murid sekaligus menantu Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin- berpendapat asalnya memang shohibul kurban menyembelih kurbannya di negerinya. Namun jika ada hajat, boleh ditransfer ke daerah lain. (Sumber: http://www.youtube.com/watch?v=EW-jD_Pf_hY)

Baca pula artikel Rumaysho.Com: Hukum Transfer Qurban ke Daerah Lain.

Jika yang mentransfer tidak menghadiri prosesi penyembelihan tidaklah masalah karena sudah diterangkan di Hukum Shohibul Qurban Tidak Menyaksikan Penyembelihan Kurban dan tidak masalah pula shohibul qurban tidak mencicipi hasil sembelihan.

Semoga yang disajikan bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

---

@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 4 Dzulhijjah 1434 H

Artikel www.rumaysho.com
no image

Ragu Dibaca Bismillah pada Sembelihan Daging ataukah Tidak?

Kita kadang ragu apakah daging yang kita makan sudah disebut nama Allah (dibacakan bismillah) ataukah belum saat disembelih. Lalu apakah kita mesti bertanya pada penjual atau yang menyajikan makanan? Apa yang mesti dilakukan?

عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - أَنَّ قَوْمًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَنَا بِاللَّحْمِ لاَ نَدْرِى أَذَكَرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ »

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ada suatu kaum yang berkata, "Wahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lantas menjawab, "Ucapkanlah bismillah lalu makanlah." (HR. Bukhari no. 2057).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Dapat dipahami dari hadits di atas bahwa bismillah bukanlah syarat dalam sahnya penyembelihan. Namun pendapat yang tepat, membaca bismillah saat menyembelih adalah wajib secara mutlak. Sedangkan hadits di atas cuma menunjukkan halalnya makanan hasil sembelihan seorang muslim. Dalam hadits hanya diterangkan bahwa mereka tidak tahu daging tersebut dibacakan bismillah ataukah tidak, bukan berarti ketika disembelih daging tersebut tidak dibacakan bismillah. Hal terakhir ini tidak diterangkan dalam hadits.

2- Hendaklah seorang muslim husnuzhon terhadap sesama muslim yaitu kita harus berprasangka baik bahwa mereka telah sempurna dalam melakukan penyembelihan.

3- Yang boleh menyembelih kurban sehingga halal dimakan adalah seorang muslim atau ahli kitab. Selama yang menyembelih adalah yang boleh menyembelih, maka tidak ditanya bagaimana cara penyembelihan dan apakah dibacakan bismillah ataukah tidak. Karena hukum asalnya, sembelihan mereka itu selamat. Kalau ditanya-tanya, malah itu jadi memberatkan diri. Sehingga segala sembelihan dari negeri kaum muslimin, maka asalnya adalah sah dan halal, selama tidak diketahui menyelisihi hukum asal tersebut.

Ibnu 'Abdil Barr rahimahullah mengatakan, "Hadits ini menunjukkan pelajaran fikih bahwa hasil sembelihan seorang muslim jika tidak diketahui apakah ketika disembelih menyebut bismillah ataukah tidak, maka asalnya boleh memakannya. Kita tetap sangka bahwa sembelihan tersebut telah dibacakan bismillah. Begitulah sikap kita terhadap seorang mukmin yaitu berprasangka baik. Hasil sembelihan dan buruhannya adalah halal sampai diketahui dengan sengaja ia meninggalkan membaca bismillah saat menyembelih." (At Tamhid, 22: 299).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Jika seseorang mendapati daging sembelihan dari muslim lainnya, maka boleh ia memakannya dengan terlebih dahulu mengucapkan bismillah karena bersikap menganggap sembelihan seorang muslim itu selamat (halal)." (Majmu' Al Fatawa, 35: 240).

Demikian bahasan singkat di malam hari ini. Moga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.



Referensi:

Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat, tahun 1432 H, 4: 296.

Minhatul 'Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh 'Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 9: 235-240.
no image

Hukum Shohibul Qurban Tidak Menyaksikan Penyembelihan Kurban

Apakah wajib shohibul kurban menghadiri prosesi penyembelihan jika ia telah wakilkan pada suatu panitia kurban? Bagaimana jika ia tidak menghadirinya?

Dalam Fatwa Islam Web disebutkan:

Menghadiri prosesi penyembelihan bukanlah syarat keabsahan kurban. Bahkan jika seseorang mewakilkan kurbannya pada suatu kepanitiaan misalnya lantas ia tidak menghadiri penyembelihannya, maka kurbannya tetap sah. Menghadiri prosesi tersebut hanyalah sunnah, bukan wajib.

Al Bahuti dalam Ar Roudh berkata,

ويتولاها أي الأضحية صاحبها إن قدر أو يوكل مسلما ويشهدها، أي يحضر ذبحها إن وكل فيه. انتهى.

"Hendaklah shohibul kurban mengurus kurbannya sendiri. Namun ia boleh pula mewakilkan muslim yang lain dan ia menyaksikan prosesi penyembelihan ketika diwakilkan."

Baca pula artikel Rumaysho.Com: Apakah Shohibul Qurban Boleh Mencicipi Hasil Sembelihan? dan Hukum Transfer Qurban ke Daerah Lain

Wallahu a'lam, hanyalah Allah yang memberi taufik.



Referensi:

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=149443
Breaking News
Loading...
Quick Message
Press Esc to close
Copyright © 2013 Radio Arrisalah 95.7 FM All Right Reserved